Analisa Terhadap Metode Diagnosa Brucellosis

PENDAHULUAN

Ditetapkan melalui pasal 24 Undang-undang nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk menetapkan jenis hama dan penyakit hewan karantina, jenis media pembawa pembawa hama dan penyakit hewan karantina dan jenis media pembawa hama dan penyakit hewan karantina yang dilarang untuk dimasukkan dan/atau dibawa atau dikirim dari satu area ke area lain didalam wilayah Negara Republik Indonesia.
Sebagai petunjuk pelaksanaan terhadap Undang-undang 16 Tahun 1992, Peraturan Pemerintah nomor 82 Tahun 2000 pada pasal 75 menjelaskan bahwa hama dan penyakit hewan karantina digolongkan menjadi golongan I dan golongan II dengan berdasar kepada daya epidemis dan patogenitas, dampak sosioekonomi serta status dan situasinya disuatu area atau wilayah Negara Republik Indonesia. Pada ayat 2 (dua) dari pasal 75 Undang-undnag 16 Tahun 1992 dijelaskan bahwa penggolongan hama dan penyakit hewan karantina sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) serta penetapan jenis hewan yang peka, masa pengamatan, masa karantina, standardisasi pengujian dan perlakuan, ditetapkan dengan Keputusan Menteri.

Menindaklanjuti perintah Peraturan Pemerintah nomor 82 Tahun 2000 pasal 75 ayat 2 (dua), bahwa penggolongan hama dan penyakit hewan karantina sebagaimana dimaksud pada pasal 75 ayat 1 (satu) serta penetapan jenis hewan yang peka, masa pengamatan, masa karantina, standardisasi pengujian dan perlakuan, ditetapkan dengan Keputusan Menteri, Kementerian Pertanian mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 206/Kpts/TN.530/3/2003 yang diperbaharui dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 110/Kpts/TN.530/2/2008 dan terakhir pada tanggal 9 September 2009 di perbaharui dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 yang mengatur tentang penggolongan jenis-jenis hama penyakit hewan karantina, penggolongan dan klasifikasi media pembawa.

Menteri Pertanian melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3238/Kpts/PD.630/9/2009 mengelompokkan hama dan penyakit hewan karantina menjadi golongan I dan golongan II. Hama dan penyakit hewan golongan I terdiri atas 65 hama dan penyakit hewan yang belum ada di wilayah Negara Republik Indonesia  mempunyai sifat dan potensi penyebaran penyakit yang serius dan cepat, belum diketahui penanganannya, dapat membahayakan manusia, dapat menimbulkan dampak social yang meresahkan masyarakat dan dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi. Hama dan penyakit hewan karantina golongan II merupakan hama dan penyakit hewan karantina yang sudha ditetapkan sebagai hama dan penyakit hewan karantina golongan I dan sudah berubah sifat sehingga tidak memiliki sifat dan potensi penyebaran penyakit yang cepat dan serius, sudah diketahui cara penanganannya, tidak membahayakan kesehatan manusia, tidak menimbulkan dampak social yang meresahkan masyarakat, tidak menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi dan/atau sudah terdapat disuatu area dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Penyakit Keluron Menular/Malta Fever/Bang’s Disease/Contagious Abortion/ Brucellosis adalah salah satu jenis penyakit yang termasuk ke dalam hama penyakit hewan golongan II. Gambar 1 adalah peta spasial terkini tentang kondisi brucellosis di Negara Republik Indonesia.


Gambar 1. Peta Prevalensi Brucellosis tahun 2014 di wilayah Negara Republik Indonesia 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Brucellosis merupakan penyakit bakterial yang utamanya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Penyakit ini juga dapat menyerang berbagai jenis hewan lainnya dan ditularkan ke manusia atau bersifat zoonosis. Pada hewan betina, penyakit ini dicirikan oleh aborsi dan retensi plasenta, sedangkan pada jantan dapat menyebabkan orchitis dan infeksi kelenjar asesorius. Brucellosis pada manusia dikenal sebagai undulant fever karena menyebabkan demam yang undulans atau naik-turun.

Di Indonesia, Brucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi dan sering dikenal sebagai penyakit Keluron Menular. Agen penyebab brucellosis pertama kali diisolasi oleh Bruce pada tahun 1887 dari manusia. Pada saat itu bakteri temuannya disebut Micrococcus melitensis, namun kemudian dikenal sebagai Brucella melitensis. Pada tahun 1897, Bang dan Stribolt mengisolasi bakteri serupa, yaitu Brucella abortus, dari sapi yang menderita penyakit Keluron Menular.

Meskipun tingkat kematian akibat brucellosis adalah kecil, namun penyakit ini sangat penting secara ekonomi. Pada ternak secara umum, kerugian yang paling nyata adalah aborsi, stillbirth, dan kemajiran, baik sementara maupun permanen. Pada ternak perah, selain kegagalan kebuntingan penyakit ini juga mengakibatkan penurunan produksi susu

Agen Etiologi
Brucellosis disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Brucella merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang dengan panjang 0,5 – 2,0 mikron dan lebar 0,4 – 0,8 mikron. Bakteri ini non-motil, tidak berspora, dan bersifat aerob. Brucella merupakan parasit intraseluler fakultatif. Pada lingkungan yang hangat dan lembab, seperti di Indonesia, bakteri Brucella dapat bertahan hingga berbulan-bulan di lingkungan.
Brucella memiliki 2 jenis antigen, yaitu antigen M dan antigen A. Brucella melitensis memiliki lebih banyak antigen M dibandingkan antigen A, sedangkan B. abortus dan B. suis sebaliknya. Brucella mempunya antigen bersama (common antigen) dengan beberapa bakteri lainnya seperti Campylobacter fetus dan Yersinia enterocolobacter.

Epidemiologi
Hospes
Brucellosis umumnya menginfeksi sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi. Brucellosis pada sapi dan kerbau utamanya disebabkan oleh Brucella abortus, namun infeksi oleh B. suis dan B melitensis juga kadang dapat ditemukan. Pada babi, brucellosis disebabkan oleh Brucella suis. Brucellosis pada kambing dan domba disebabkan oleh B. melitensis dan B. ovis, sedangkan pada kuda oleh B. abortus dan B. suis. Pada anjing, brucellosis utamanya disebabkan oleh B. canis, bila ditemukan infeksi oleh B. abortus, B. suis, atau B. melitensis maka hal tersebut umumnya berkaitan dengan adanya infeksi brucellosis pada ternak di sekitarnya.

Cara penularan
Brucellosis ditularkan melalui ingesti bakteri yang terdapat dalam susu, fetus abortus, membran fetus, dan cairan uterus atau kopulasi dan inseminasi buatan. Pada sapi jantan, bakteri ini dapat ditemukan dalam semen yang dihasilkan. Pada domba, brucellosis juga diketahui dapat ditularkan antar domba jantan melalui kontak langsung. Infeksi biasanya tahan lama pada domba jantan dan B. ovis akan diekskresikan dalam persentasi yang tinggi secara intermiten selama kira-kira 4 tahun.

Brucellosis dapat ditularkan ke manusia melalui konsumsi susu segar dan produk susu dari hewan yang terinfeksi atau kontak langsung dengan sekresi, ekskresi, dan bagian tubuh hewan yang terinfeksi, seperti jaringan, darah, urin, cairan vagina, fetus abortus, dan plasenta.

Kejadian di dunia dan Indonesia
Brucellosis tersebar secara luas di seluruh dunia. Sebagian besar negara maju sudah berhasil mengendalikan penyakit pada ternak dan hewan kesayangan, namun masih kesulitan mengeradikasi brucellosis pada populasi satwa liar. Hanya ada satu negara yang berhasil membebaskan diri dari brucellosis, yaitu Irlandia pada Juli 2009.
Brucellosis pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1953. Sejak itu reaktor brucellosis telah ditemukan secara luas di pulau-pulau besar di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Timor, kecuali Bali. Pada tahun 2002, pulau Bali dinyatakan bebas historis penyakit brucellosis melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 443/Kpts/TN.540/7/2002, sementara pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dinyatakan bebas penyakit brucellosis melalui program pemberantasan dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 444/Kpts/TN.540/7/2002. Di tahun 2009, Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2541/Kpts/PD.610/6/2009 dan pulau Kalimantan juga dinyatakan bebas dari penyakit brucellosis pada sapi dan kerbau melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 2540/Kpts/PD.610/6/2009.

Menurut jurnal ”A Review on Diagnostic Techniques for Brucellosis” yang diterbitkan oleh www.academicjournals.org, Brucellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella. Penyakit mempengaruhi banyak spesies mamalia dan dapat menular ke manusia, sehingga memberikan dampak sosial-ekonomi yang sangat besar. Menetapkan diagnosa Brucellosis mungkin sulit karena gejala yang dapat diamati tidak spesifik dan demam yang terjadi mirip dengan gejala penyakit lainnya, tingkat pertumbuhan agen etiologi pada kultur darah membutuhkan waktu yang lama, serta tingkat kompleksitas metode uji serologis yang dilaksanakan terhadap agen etiologi tersebut. Diagnosa awal terhadap Brucellosis dapat ditetapkan dengan menggunakan metode uji serologis terhadap antibodi Brucella, namun demikian “Gold Standard” terhadap metode uji Brucellosis tetaplah isolasi dan identifikasi terhadap bakteri. Isolasi dan identifikasi terhadap bakteri Brucella  pertama kali dilaporkan oleh Bruce dan teman kerjanya., ketika mereka mengisolasi Brucella mellitensis dari militer yang bertugas di Malta. Namun demikian, pemeriksaan dengan menggunakan kultur memakan waktu yang tidak singkat, berbahaya dan tidak sensitif. Meskipun selama lebih dari satu abad dilakukan upaya untuk dapat menemukan teknik diagnosa yang definitif terhadap Brucellosis, diagnosa yang sekarang digunakan masih berdasarkan pada beberapa metode uji untuk menghindari hasil negatif palsu.

Brucellosis merupakan penyakit dengan jumlah gejala klinis yang tidak sedikit sehingga membuat diagnosa menjadi perkerjaan yang tidak mudah untuk dilaksanakan. Semenjak laporan uji serologis terhadap pertama kali dilaksanakan, teknik diagnosa yang definitif menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Metode yang paling luas digunakan adalah metode serologi, yang mengukur kemampuan serum (antibodi) yang dapat mengaglutinasi Brucella abortus yang mengandung rantai O yang telah dilemahkan dalam jumlah yang memenuhi standar. Metode-metode uji ini adalah paling jamak dilaksanakan karena metode-metode ini adalah metode-metode yang aman untuk dilaksanakan. Namun demikian, metode-metode uji ini paling rentan terhadap hasil positif palsu karena terjadi reaksi silang dengan bakteri lainnya, dan juga karena metode-metode uji ni tidak begitu membantu dalam program deteksi terhadap Brucella canis dan Brucella ovis yang memiliki rantai O yang sedikit. Uji-uji lain yang sangat bermanfaat termasuk pemeriksaan langsung terhadap cairan yang didasarkan kepada dugaan yang mengarah  kepada diagnosa brucellosis yang meliputi pembuatan ulasan dari swab vagina, plasenta, atau janin yang di abortuskan, diwarnai dengan menggunakan metode Ziehl-Nielsen yang telah mengalami modifikasi pada bagian penandaannya. Mikroorganisme yang secara morfologis memiliki kemiripan dengan Bucella abortus seperti misalnya Chlamydia psittacii, Chlamydophila abortus atau Coxiella burnetti dapat menjadi differensial diagnosa, sehingga, sangat direkomendasikan untuk melaksanakan uji-uji konfirmasi dengan menggunakan kultur yang tepat dan media yang bersifat selektif. Kultur dan isolasi organisme dari sample yang berupa darah atau jaringan merupakan metode yang “tegas” namun memiliki sensitivitas yang rendah, dan hasilnya sangat bervariasi bergantung kepada tingkat kemampuan laboratoris individu pengujinya, dan juga seberapa aktif dalam mengejar hasil kultur. Inokulasi pada hewan laboratorium menjadi metode yang sangat berguna, namun hal ini akan terganggu dengan asam lambung. Baru-baru ini, telah diketemukan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang merupakan metode yang sangat membantu dan lebih sensitif, namun belum divalidasi untuk dapat digunakan sebagai standar pada laboratorium.








METODOLOGI

Metodologi dalam yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah dengan pendekatan kajian literatur. Adapun literatur yang menjadi acuan bagi penulis adalah sebagai berikut :
  •  A Review on Diagnostic Techniques for Brucellosis ;
  • Bovine Brucellosis Trends in Malaysia between 2000 and 2008 ;
  • Diagnosis of Brucellosis in Livestock and Wildlife ;
  • Sensitivity and Specificity of Various Serological Test for Detection of Brucella spp. Infection in Male Goat and Sheep ;
  • A Comparison of Standard Serological Test for the Diagnosis of Bovine Brucellosis in Canada
  • OIE Terrestrial Manual 2009 Chapter 2.4.3 – Bovine Brucellosis ;
  • Application of Different Serological Test for the Detection of the Prevalence of Bovine Brucellosis in Lactating Cows in Khartoum State, Sudan.
  • Undang-undang No. 16 Tahun 19922 tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan
  • Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan
  • Keputusan Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan dan Klasifikasi Media Pembawa














BAB III
PEMBAHASAN

Brucellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dari genus Brucella. Penyakit mempengaruhi banyak spesies mamalia dan dapat menular ke manusia, sehingga memberikan dampak sosial-ekonomi yang sangat besar. Menetapkan diagnosa Brucellosis mungkin sulit karena gejala yang dapat diamati tidak spesifik dan demam yang terjadi mirip dengan gejala penyakit lainnya, tingkat pertumbuhan agen etiologi pada kultur darah membutuhkan waktu yang lama, serta tingkat kompleksitas metode uji serologis yang dilaksanakan terhadap agen etiologi tersebut. Diagnosa awal terhadap Brucellosis dapat ditetapkan dengan menggunakan metode uji serologis terhadap antibodi Brucella, namun demikian “Gold Standard” terhadap metode uji Brucellosis tetaplah isolasi dan identifikasi terhadap bakteri. Isolasi dan identifikasi terhadap bakteri Brucella  pertama kali dilaporkan oleh Bruce dan teman kerjanya., ketika mereka mengisolasi Brucella mellitensis dari militer yang bertugas di Malta. Namun demikjian, pemeriksaan dengan menggunakan kultur memakan waktu yang tidak singkat, berbahaya dan tidak sensitif. Meskipun selama lebih dari satu abad dilakukan upaya untuk dapat menemukan teknik diagnosa yang definitif terhadap Brucellosis, diagnosa yang sekarang digunakan masih berdasarkan pada beberapa metode uji untuk menghindari hasil negatif palsu.

Diagnosa Brucella Spp. pada hewan ternak dan hewan liar adalah kompleks dan hasil pengujian secara serologis  perlu untuk dianalisa secara hati-hati. Brucella abortus S-19 dan Brucella mellitensis Rev-1 adalah pilar utama dalam melaksanakan program pengendalian pada ternak sapi dan ruminansia kecil. Tidak tersedia vaksin untuk babi dan hewan liar. Dalam kondisi ketiadaan vaksin brucellosis untuk manusia, pencegahan brucellosis pada manusia bergantung pada keberhasilan pengendalian brucellosis pada hewan.

Brucellae adalah gram-negatif, bakteri intraseluler fakultatif yang dapat menginfeksi banyak spesies hewan dan manusia. Sepuluh spesies diakui dalam genus Brucella. Ada 6 spesies klasik: Brucella abortus, Brucella melitensis, Brucella suis, Brucella ovis, Brucella canis, dan Brucella neotomae. Klasifikasi ini didasarkan terutama pada perbedaan patogenisitas dan preferensi hospes. Pembedaan antara spesies dan antara biovars dari spesies tertentu saat dilakukan dengan menggunakan tes diferensial berdasarkan karakterisasi fenotipe lipopolisakarida (LPS) antigen, karakteristik phague, sensitivitas terhadap pewarna, kebutuhan CO2, produksi H2S, dan karakterisasi metabolik.

Spesies patogen utama di seluruh dunia adalah B. abortus, bertanggung jawab untuk brucellosis sapi; B. melitensis, agen etiologi utama domba dan kambing; dan B. suis, bertanggung jawab untuk brucellosis babi. Ketiga spesies brucella tersebut menyebabkan aborsi ("badai aborsi-abortion storm" pada sapi dara), dan ketika brucellosis terdeteksi dalam suatu populasi, kawanan, wilayah, atau negara, peraturan veteriner internasional memberlakukan pembatasan terhadap pergerakan hewan dan perdagangan, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar. Ini adalah alasan mengapa program untuk pengendalian atau eradikasi brucellosis pada sapi, ruminansia kecil, dan babi telah dilaksanakan di seluruh dunia.

B. Ovis dan B. canis masing-masing bertanggung jawab terhadap kejadian epididimitis pada kambing dan brucellosis pada anjing. Dalam kasus B. neotomae, hanya strain yang di isolasi dari tikus kayu gurun (Neotoma lepida) di Amerika Utara yang telah dilaporkan. Terakhir, terdapat 4 spesies baru dari Brucella yang telah diumumkan : Brucella pinni-pedialisand dan Brucella ceti, yang masing masing berhasil di isolasi dari anjing laut dan Ordo Cetacea, masing-masing; Brucella microti, di isolasi dari tikus umum (Microtus arvalis), tanah, dan rubah (Vulpes vulpes); dan Brucella inopinata, terisolasi dari implan payudara.

Terdapat suatu pola pembatasan secara umum diantara spesies Brucella, yang berarti bahwa setiap spesies Brucella memiliki preferensi hospes yang berbeda-beda. Bahkan dalam satu spesies Brucella suis, setiap biovar memiliki preferensi hospes hewan yang berbeda-beda. Memang, biovar 1 dan biovar 3 dari Brucella  suis menginfeksi famili Suidae, biovar 2 menginfeksi famili Suidae  dan kelinci eropa (Lepus europeanus), biovar 4 menginfeksi rusa kutub (Rangifer tarandus tarandus) and rusa caribou (Rangifer tarandus granti), dan biovar 5 telah berhasil diidentifikasi dari hewan pengerat di Rusia.

Semua spesies brucella memiliki kemungkinan untuk dapat menginfeksi spesies hewan liar. Spesies brucella klasik telah berhasil diisolasi dari berbagai macam hewan liar seperti bison, elk, babi hutan, rubah, kelinci, kerbau afrika, rusa kutub, dan rusa caribou. Dalam rangka mengimplementasikan tindakan pengendalian yang tepat untuk mengatasi brucellosis pada satwa liar, sangat penting untuk membedakan antara penularan yang berasal dari hewan domestik dengan infeksi berkelanjutan. Pada kejadian berikutnya, perhatian dari industri peternakan tertuju pada pencegahan terhadap re-introduksi infeksi pada ternak (penularan kembali), khususnya pada daerah-daerah atau negara-negara yang secara resmi telah dinnyatakan bebas dari brucellosis. Apabila terjadi kehilangan status “bebas brucellosis” maka hewan domestik harus diuji sebelum diperdagangkan, yang akan semakin memperbesar biaya yang harus dikeluarkan. Kondisi ini dicontohkan dengan kejadian terakhir dimana ternak terinfeksi B. abortus yang berasal dari elk di daerah Dataran Yellowstone di Amerika Serikat dan kejadian di Perancis dimana ternak babi diluar rumah tertular B. canis biovar 2 yang berasal dari babi hutan.

Brucellosis telah ditetapkan sebagai penyakit zoonosis : infeksi telah dinyatakan berkaitan dengan setidaknya 5 dari 6 spesies Brucella klasik pada mamalia darat. Kajian dari seluruh bagian dunia mengindikaiskan bahwa eliminasi terhadap hewan yang menjadi reservoir brucellosis akan menurunkan dengan nyata tingkat kejadian penyakit ini pada manusia. Pada saat sekarang ini, para petugas laboratorium merupakan obyek yang sering terpapar infeksi. Brucella strain mamalia laut dilaporkan telah menjadi penyebab terjadinya infeksi pada petugas laboratorium di Inggris, begitu juga pada kasus infeksi alami yang terjadi di Peru dan New Zealand.



Spesies Brucella dan biovar, preferensi hospes dan patogenesitas bagi manusia digambarkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Spesies dan biovar-biovar Brucella, preferensi hospes dan patogenesitas 
terhadap manusia (Seagermen et al)
PENGAMBILAN SPESIMEN UNTUK DIAGNOSA BRUCELLOSIS
Untuk keperluan diagnosa terhadap brucellosis, organisme dapat diambil dari beberapa organ yang biasanya bergantung kepada gejala klinis yang timbul. Pada hewan, bagian placenta adalah bagian yang paling banyak terkena infeksi dan memiliki konsentrasi bakteri yang paling tinggi ; diikuti kemudian dengan nodus lympatikus dan susu ; dan darah jika pada manusia. Selanjutnya, organ lain yang mengandung konsentrasi organisme yang tinggi adalah isi perut, limpa dan paru-paru dari janin yang digugurkan, swab vagina, semen dan cairan arthritis atau hygroma dari hewan dewasa. Dari karkas hewan, jaringan yang memiliki potensi untuk kegiatan pembuatan kultur adalah Glandula mammae, nodus limpatikus supramammary, illiaca medial dan illiaca internal, retropharyngeal, parotis dan prescapular, serta limpa. Semua spesimen harusr dikemas secara terpisah dan dengan segera dibawa ke laboratorium dengan menggunakan kontainer yang anti bocor. Untuk manusia, sampel darah untuk kultur merupakan material yang bersifat pilihan, namun spesimen harus diambil pada awal terjadinya penyakit. Sampel harus disimpan dalam kondisi beku sampai dengan digunakan untuk pembuatan kultur. Tidak ada sampel yang ideal untuk isolasi Brucella dari mamalia perairan, kecuali ditemui lesi spesifik pada jaringan. Namun demikian, organ yang direkomendasikan untuk dapat menemukan organisme Brucella adalah nodus lympatikus pada limpa, glandula mammae, mandibularis, lambung (gastrium), illiacus internal dan external, colorectal, testis dan darah.

GAMBARAN METODE DIAGNOSA
Bagian ini akan mengulas berbagai metode yang digunakan dalam melaksanakan diagnosa kejadian brucellosis pada ternak dan hewan liar. Uji diagnostik dapat diterapkan untuk tujuan yang bervariasi ; diagnosa konfirmasi, kajian dalam rangka skrining atau mengukur prevalensi, sertifikasi, dan, dalam sebuah negara yang mana brucellosis telah di eradikasi, uji diagnostik diterapkan sebagai metode untuk menghindari reintroduksi brucellosis yang mungkin mengancam melalui kegiatan importasi hewan ataupun produk hewan yang terinfeksi. Validasi terhadap uji diagnostik seperti ini masih menjadi kendala, terutama pada hewan liar.
Metode-metode diagnostik termasuk uji langsung, melibatkan analisa mikrobiologi atau deteksi DNA dengan menggunakan metode berbasis PCR dan uji tidak langsung, yang dilaksanakan secara in vitro (terutama untuk susu dan darah) ataupun in vivo (tes alergi).  Pemilihan terhadap strategi pengujian tertentu tergantung pada kondisi epidemiologis kejadian penyakit brucella pada hewan yang rentan (ternak dan satwa liar) pada suatu negara atau suatu daerah. Isolasi atau deteksi terhdap Brucella spp. DNA dengan PCR merupakan satu-satunya metode yang memungkinkan untuk didapatkannya kepastian dalam mendiagnosa. Pengidentifikasian biotype memberikan informasi berharga yang memungkinkan untuk melacak kembali ke sumber asalnya di negara-negara dimana beberapa biotipe berada secara bersama-sama. Namun demikian, ketika salah satu biovar tertentu berada dalam posisi sangat dominan teknik identifikasi dengan menggunakan metode klasik akan menjadi tidak berguna karena tidak mereka tidak  mengizinkan differensiasi isolat milik biovar yang sama dari spesies tertentu. Pada konteks ini, metode metode penelusuran yang baru seperti analisa variabel multipel locus, yang mengukur jumlah tandem yang berulang  pada lokus yang tersedia dan analisa sequence multi lokus bisa mendifferensiasikan isolat-isolat pada biovar yang diberikan. Metode ini memiliki level keberterimaan yang lebih luas dan hampir pasti pada masa-masa yang akan datang akan digunakan sebagai metode identifikasi yang rutin digunakan untuk tujuan epidemiologi molekuler.
Metode diagnosa laboratoris terhadap brucellosis pada masa sekarang ini menjadi identifikasi agen penyebab dan uji serologis. Beberapa metode yang termasuk dalam identifikasi agen penyebab adalah :
  • Staining (pewarnaan)
  • Culture (biakan)
  • Molekuler


Beberapa metode uji serologis dalam mendeteksi penyakit brucellosis adalah : 
  • Rose Bengal Plate Test (RBPT) 
  • Buffered Plate Agglutination Test (BPAT) 
  • Complement Fixation Test (CFT) 
  • Enzym-linked Immunosorbent Assay (ELISA) 
  • Flourenscence Polarisation Assay (FPA) 
  • Brucellin Skin Test (Skin Test
  • Serum Agglutination Test (SAT) Milk Test


Identifikasi Agen Penyebab
Pewarnaan (Staining). Metode karakterisasi pewarnaan masih sering digunakan meskipun teknik ini tidak spesifik karena agen abortus lainnya seperti Chlamydophila abortus (sebelumnya Chlamydia psittaci) atau Coxiella burnetiiare akan memberikan hasil warna merah juga seperti Brucella. Teknik seperti ini akan memberikan informasi yang berharga dalam hal analisa terhadap material yagn diabortuskan. Brucella spp. berbentuk coccobacillus  dengan panjang 0.5-0.7 µm dan lebar 0.5-0.7 µm. Biasanya mereka beraksi secara tunggal  dan dapat diamati dalam dua atau lebih kelompok. Brucella spp. adalah baklteri gram negatif yang mampu untuk bertahan dengan perlakuan asam yang lemah dan hal itu yang menimbulkan warna merah setelah dilakukan pewarnaan khas (Seagerman et al, 2010 ; 298). Marin dkk, (1996) melaporkan bahwa dugaan diagnosa bakterologis awal terhadap Brucella bisa dibuat dengan menggunakan pemeriksaan mikroskopik terhadap preparat ulas yang berasal dari swab vagina, placenta atau fetus yang diabortuskan, diwarnai dengan menggunakan metode modifikasi dari metode pewarnaan Ziehl-Nielsen. Namun demikian, mikroorganisme yang terkait secara morfologis, semisal Chlamydophila abortus, Chlamydia psittaci  dan  Coxiella burnetti, dapat menjadi differensial diagnosa karena kesamaan pada bagian superfisial. Dengan demikian, isolasi Brucella melitensis pada media kultur yang sesuai seperti media selektif Farrell direkomendasikan untuk akurasi dari diagnosa. Swab vagina dan sampel air susu adalah sampel terbaik untuk dapat digunakan dalam upaya mengisolasi Brucella melitensi pada kambing dan domba (Kaltungo et al 2014 ; 3).
Biakan (Culture). Isolasi bakteri selalu diperlukan untuk mengelompokkan strain (liat “Metode Molekuler” dibawah). Untuk diagnosa definitif brucellosis, pilihan sample yang akan diambil bergantung pada gejala klinis yang diamati. Dalam kasus Brucellosis klinis, sample yang harus diambil adalah janin yang di abortuskan (perut, limpa dan paru-paru), selaput janin, cairan vagina, kolostrum, susu, sperma, dan cairan yang dikumpulkan dari arthritis atau higroma. Pada individu yang disembelih, untuk tujuan  mengkonfirmasi terhadap kasus dugaan brucellosis akut atau kronis jaringan yang dianjurkan untuk diambil sebagai sample adalah nodus limphatikus area genital dan oropharyngeal, limpa, dan glandula mammae serta nodus lymphatikus  terkait. Untuk isolasi terhadap bakteri Brucella spp., medium yang paling sering digunakan adalah medium Farrel, yang mengandung antibiotik yang mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri lain yang ada di dalam sampel. Beberapa spesies Brucella, seperti tipe Brucella abortus yang ada di alam liar (biovar 1 – 4), perlu CO2 untuk pertumbuhan, sementara yang lain, seperti tipe Brucella abortus yang ada di alam liar (biovar 5,6,9), vaksin Brucella abortus  strain S19, Brucella melitensis, dan Brucella suis, tidak. Unutk sampel yang memiliki konsistensi berupa cairan, sensitivitas pengujina akan meningkat apabila  menggunakan media biphasic seperti media Castaneda, pada awalnya digunakan untuk kultur darah manusia. Pertumbuhan mungkin akan nampak setelah – hari, tapi biakan/kultur akan dianggap negatif setelah 2-3 minggu masa inkubasi. Identifikasi Brucella spp. didasarkan kepada morfologi, pewarnaan dan profil metabolisme (katalase, oksidase dan urease) (Seagerman et al, 2010 ; 298).
Prosedur ini dapat dilaksanakan dengan melaksanakan kultur terhadap jaringan tubuhatau sekret seperti darah, air susu, dan cairan kelamin. Sensitivitas yang lebih tinggi dan waktu kultur yang lebih cepat dapat dicapai pada pasien yang telah mengalami treatment sebelumnya dengan menggunakan antibiotik, ketika dilaksanakan kultur terhadap sunsum tulang belakang. Spesies Brucella dapat juga dikultur dengan menggunakan sampel yang berasal dari pus, cairan cerebrospinal dan cairan pleura, sendi dan ascites. Pertumbuhan bakteri pada media kultur merupakan bukti yang tegas terhadap proses infeksi yang terjadi. Kultur darah hanya akan berguna pada hewan yang mengalami bakteremia, yang mana tidak selalu terjadi. Namun demikian, dengan melaksanakan metode uji ini, sering diketemukan bakteri ini pada sampel air susu. Sampel berupa nodus lymphatikus, liver, limpa, ambing dan organ yang lain yang diambil pada kondisi post-mortem dapat memberikan hasil positif dengan menggunakan metode uji kultur namun memberikan hasil negatif ketika diuji dengan metode serologis. Dalam hal ini, metode kultur telah digunakan secara luas dalam dunia penelitian. Identifikasi spesies Brucella dalam kultur bergantung kepada banyak faktor fenotipe seperti : kebutuhan CO2, karakter phague, dan uji-uji biokimia yang mana, diantara masalah lainnya, termasuk waktu, keamanan, personel terlatih dan kemampuan interpretasi terhadap hasil yang agak ambigu. Untuk kulturorganisme Brucella, media kaldu maupun agar dapat dibuat dari bahan yang berbentuk tepung. Pada kondisi dimana konsentrasi organisme Brucella pada darah atau cairan lainnya hanya sedikit, lebih direkomendasikan untuk menggunakan media kaldu atau media biphasic. Namun demikian, untuk spesimen lainnya, media solid dengan kandungan agar 2,5% dapat membantu pengenalan koloni dan mencegah disosiasi bakteri. Kondisi pH yang optimum bagi pertumbuhan bakteri Brucella bervariasi antara 6,6 – 7,4,dan medmia kultur harus dikondisikan sehingga memiliki pH pada kisaran 6,8 untuk dapat menghasilkan pertumbuhan yang optimum. Temperatur yang optimum bagi pertumbuhan bakteir adalah 36-38°C. Namun demikian, strain  kebanyakan akan tumbuh pada suhu 20-40°C. Kebanyakan dari strain Brucella, terutama Brucella abortus biovar 2 dan Brucella ovis akan tumbuh lebih baik pada media kultur dengan kandungan serum steril (dari kuda atau sapi) 5-10%, dan bebas dari antibodi Brucella. Untuk menghindari tumbuhnya kontaminan yang merupakan kendalan umum dalan penanganan sampel dari lapangan, maka harus digunakan media selektif. Media selektif yang paling banyak digunakan adalah Kuzdas dan Morse dan media selektif Farrel. Media selektif Kuzdas dan Morse menggunakan jenis antibiotik seperti disebutkan berikut beserta jumlah per liter medium basal : 100 mg cycloheximide (fungistat), 25.000 unit of bacitracin (aktif melawan bakteri gram positif)  dan 6.000 unit polymyxin B (aktif melawan bakteri gram negatif). Media selektif Farrel dipersiapkan dengan menambahkan antibiotik seperti disebutkan berikut beserta jumlah per liter medium basal : bacitracin (25 mg), polymyxin B sulphate (5 mg), asam nalidixic (5 mg), nystatin (100,000 unit), vancomycin (20 mg), natamycin (50 mg). Sebagai media selektif, Farrell bersifat sedikit menginhibisi beberapa strain dari Brucella abortus, Brucella mellitensis dan Brucella ovis, media Thayer Martin yang telah dimodifikasi dapat digunakan bersamaan dengan media selektif Farrell untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dari spesies-spesies tersebut. Media ini dipersiapkan dengan menggunakan media GC sebagai media basal ditambah dengan 1% hemoglobin dan sejumlah antibiotik dalam ukuran per-liter sebagai berikut : Colistin methane-sulphonate (7.5 mg), vancomycin (3 mg), nitrofurantoin (10 mg), nystatin (100,000 unit) dan amphotericin B (Kaltungo et al 2014 ; 3).
Metode Molekuler (Moleculer Methods)
Teknik-teknik baru yang memungkinkan untuk identifikasi dan penentuan tipe Brucella secara cepat telah dikembangkan dan digunakan pada laboratorium diagnostik tertentu.
Identifikasi. Telah dikembangkan beberapa metode dengan mendasarkan kepada metode PCR. Metode-metode validasi yang terbaik adalah yang berdasarkan pada deteksi sequence spesifik dari Brucella spp., seperti gen 16S-23S,  insersi sequence IS711 atau gen bcsp31 akan mengkode sebuah protein 31-kDa. Pada awal mulanya teknik ini dikembangkan pada isolat bakteri dan  pada perkembangannya juga digunakan untuk mendeteksi Brucella spp. DNA pada sample klinis. Perlu dievalusi dalam hal ekstraksi DNA yang dapat menurunkan sensitivitas uji PCR. Perlu dicatat bahwa sebagian besar teknik ini telah divalidasi pada sampel manusia, namun beberapa laporan mengevaluasi penerapannya bagi sample klinis veteriner. Baru-baru ini satu teknik telah dievaluasi dengan baik untuk mendiagnosa Brucella suis biovar 2 pada sample klinis babi hutan yang berasal dari Swiss. Menjadi hal yang sulit untuk memberikan perkiraan sensitivitas dan spesifitas terhadap teknik teknik ini karena protokol-protokol uji menjelaskan bahwa masing-masing artikel tidaklah sama. Namun demikian, sebagai aturan umumn teknik PCR Brucellosis menunjukkan sensitivitas diagnostik yang lebih rendah daripada metode kultur, meskipun spesivitas mereka mendekati 100 %. Sejauh ini hasil terbaik dihasilkan dengan menggabungkan metode kultur dan deteksi menggunakan PCR pada sampel klinis (Seagerman et al, 2010 ; 299).
Identifikasi Molekuler. Untuk dapat menentukan tipe dari Brucella spp., AMOS PCR multipleks, dinamai berdasarkan penggunaannya yang untuk mendeteksi spesies abortus, mellitensis, ovis, suis. PCR ini beserta dengan protokolnya memungkinkan untuk dapat membedakan berbagai macam spesies Brucella dan membedakan antara vaksin dengan strain yang berasal dari alam liar. Namun demikian mereka tidak dapat membedakan semua biovar dari semua spesies Brucella. PCR multiplex “Bruce Ladder” adalah metode pertama yang di desain untuk mengidentifikasi dan mendifferensiasikan semua spesies Brucella yang telah dikenal dan strain vaksin pada uji yang sama. Kekurangan dari metode-metode yang dikembangkan dengan berdasar kepada PCR adalah dalam membedakan biovar-biovar dalam satu spesies Brucella yang mana hal ini memicu perkembangan teknik dan metode dalam menentukan tipe molekuler untuk Brucella spp., seperti metode analisa RFLP (restriction fragment Length Polymorphism) dengan berdasar kepada insersi sequence dengan nomor IS711. Namun demikian, metode ini belum  terbukti sebagai metode yang sangat berguna. PCR RFLP dengan berdasar kepada analisa restriksi terhadap gen Brucella dalam mengkode protein membran luar adalah metode yang sederhana untuk diterapkan, namun tingkat polimorfismenya rendah dan tingkat ketahanannya lemah. Beberapa teknik identifikasi terbaru tampak menjanjikan untuk dapat mendifferensiasikan isolat dari biovar yang sama dari satu spesies yang ada : singler-nucleotide polymorphism, polimorfisme nukleotida tunggal, yang mendeteksi perbedaan nukleotida tunggal dalam urutan DNA dari satu spesies : MLSA, yang mendeteksi variasi sequence DNA dalam satu set gen-gen pemelihara tubuh, dan mengkarakterisasikan strain melalui profil unik allel mereka ; dan  MLVA yang menganalisa variasi lokus-lokus yang mengandung sequence yang diulang. Untuk lebih singkatnya, metode identifikasi tipe secara klasik dapat membedakan biovar-biovar dari Brucella, namun, sebentar lagi singler-nucleotide polymorphism, MLSA, dan MLVA akan menjadi teknik identifikasi yang secara rutin dilaksanakan untuk dapat membedakan strain pada level biovar yang sama, yang memungkinkan analisa epidemiologi molekuler (Seagerman et al, 2010 ; 299).
PCR adalah metode yang baru dan menjanjikan yang memungkinkan untuk dapat mendapatkan diagnosa Brucellosis secara cepat dan akurat tanpa keterbatasan yang dimiliki oleh metode-metode konvensional. Telah dikembangkan beberapa sistem PCR yang spesifik terhadap genus tertentu menggunakan pasangan primer yang menargetkan sequence 16SRNA dan gen-gen dari protein membran luar. Uji terhadap Brucellosis dengan mendasarkan kepada PCR pertama kali dikenalkan pada tahun 1990. PCR multiplex pertama yang spesifik terhadap spesies disebut uji Abortus-Melitensis-Ovis-Suis  (AMOS-PCR), yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mendifferensiasikan Brucella abortus biovar 1, 2 dan 4,  Brucella melitensis,  Brucella ovis  dan  Brucella suis  biovar  1. PCR didasarkan kepada sifat polimorfisme yang timbul dari insersi sequence yang spesifik pada setiap spesies dalam kromosom Brucella. Teknik PCR memiliki kekurangan yaitu ketidakmampuannya dalam mengidentifikasi Brucella canis dan Brucella neotomae.
Lebih jauh lagi, beberapa biovar dalam satu spesies tertentu dapat memberikan hasil negatif. Uji PCR multipleks “Tangga-Bruce” juga dikembang untuk identifikasi dan differensiasi spesies Brucella dan strain vaksin dalam satu langkah. PCR semakin ditingkatkan untuk mengidentifikasi Brucella microti dan Brucella innopinata. Namun demikian, uji ini tidak mendifferensiasikan pada tingkat biovar atau pada level yang lebih bawah lagi dari biovar. Baru-baru ini, uji PCR multipleks (suis ladder) dikembangkan untuk dapat mendifferensiasikan biovar 1 – 5 dari Brucella suis (Kaltungo et al 2014 ; 7).
Metode Uji Serologis
Uji ini berasal dari penelitian yang telah dilaksanakan terutama pada diagnosis brucellosis pada sapi. Sebagian besar uji dapat juga dilaksanakan pada kambing dan domba, kecuali Milk Ring Test, yang mana tidak dapat dilaksanakan pada kambing dan domba karena terlalu banyak memberikan hasil positif palsu. Pada babi, pada beberapa daerah tidak jarang diketemukan infeksi oleh Yersinia enterocolitica serotipe O : 9 (YO9), terutama di Eropa. Semenjak YO9 dan Brucella berbagi sebuah rantai O polisakarida, antigen Brucella spp. yang digunakan dalam uji serologi bereaksi sama baiknya dengan permukaan halus LPS dari YO9 dan sehingga antigen tidak dapat membedakan antara 2 patogen ini. Dengan demikian, seperti yang telah ditentukan oleh OIE, tak satupun dari uji serologi konvensional yang digunakan untuk mendiagnosa brucellosis babi dapat diandalkan untuk mendiagnosa babi secara individual. Beberapa kajian serologi terhadap brucellosis telah dilaksanakan pada hewan liar dan juga pada hewan koleksi kebun binatang, dengan tujuan untuk melihat keberadaan atau penyebaran spesies Brucella spp. dalam spesies liar yang berbeda dan untuk mengelompokkan spesies atau individu sebagai individu terpapar atau non-terpapar. Pengujian serologis terhadap brucellosis biasanya dilaksanakan dengan menggunakan antigen yang sama dengan antigen yang digunakan untuk pengujian serologis pada ternak karena antigen brucella yang bersifat immunodominan, berkaitan dengan LPS halus, yang mana memiliki jangkauan yang luas yang dimiliki oleh hampir semua biovar alami dari spesies B. abortus, B. melitensis, B. suis , B. neotomae, B. ceti, B. pinnipedialis, dan B. microti. Kebanyakan uji serologis terhadap brucellosis telah diadopsi aplikasinya pada spesies hewan liar, tanpa adanya validasi, dari populasi ternak domestik, yang mana dalam kegunaannya juga tidak pernah dilaksanakan validasi. Untuk memvalidasi uji serologis, harus dilaksanakan analisa berdasarkan status infeksi yang sebenarnya dari hewan yang bersangkutan. Keberadaan antibodi anti-Brucella mengindikasikan adanya paparan terhadap Brucella spp., namun tidak mengisyaratkan spesies brucella yang mana yang merangsang produksi antibodi tersebut. Terlebih lagi, kondisi seropositif tidak selalu berarti bahwa hewan yang bersangkutan sedang terjangkit atau terinfeksi secara aktif pada saat dilaksanakan pengambilan sampel. Bahkan, kajian terhadap infeksi eksperimental dan alami menunjukkan bahwa hampir semua spesies hewan rentan terhadap infeksi Brucella dapat kehilangan titer antibodi mereka. Ini berarti bahwa prevalensi brucellosis sesungguhnya mungkin lebih tinggi dari yang ditunjukkan oleh skrining antibodi. Oleh karena itu, "gold standard" pada penyakit brucellosis tetap isolasi Brucella spp. Jika ada dugaan terjadinya brucellosis pada ternak dan hewan liar yang berdasar kepada hasil pengujian serologis, adalah wajib untuk untuk mengisolasi organisme dan harus selalu dilaksanakan (Seagerman et al, 2010 ; 299-300).
Cairan tubuh semisal serum, cairan uterus, mukosa vagina, air susu, atau plasma semen yang berasal dari hewan tersangka bisa jadi mengandung jumlah konsentrasi antibodi isotipe M, G1, G2 dan A yang berbeda-beda yang digunakan dalam melawan proses infeksi Brucella. Hewan yang terinfeksi bisa jadi tidak selalu menghasilkan semua jenis isotipe antibodi dalam kuantitas yang mampu untuk dideteksi ; sehingga, hasil dari beberapa uji serologis harus disimpulkan sebagai dugaan awal terhadap kejadian ifeksi. Selain itu, bergantung kepada sensitivitas dan spesifitas  yang dimiliki, uji serologis dapat digunakan sebagai uji skrining atau uji konfirmasi terhadap brucellosis. Secara tradisional, uji skrining adalah murah, cepat dan memiliki sensitivitas yang tinggi, namun kebanyakan dari mereka memiliki spesifitas yang rendah. Namun, diperlukan uji konfirmasi untuk untuk menjadi lebih sensitif dan spesifik, sehingga mengeliminasi hasil positif palsu. Uji serologis yang umum dilaksanakan meliputi Milk Ring Test (MRT), uji agglutinasi serum (SAT), standard plate agglutination test (SPAT), complement fixation test (CFT), 2-mercaptoethanol  test  (2-MET),  buffered antigen test  (BPAT), and Rose  Bengal plate test (RBPT). Yang lainnya termasuk card test  (CARD), Rivanol test, Coombs test, indirect immuneflourescent test (IFAT),  heat inactivation  test (HIT),  skin test, uji immunitas dan teknik biologi molekuler (Kaltungo et al 2014 ; 3-4).
Rose Bengal Plate Test (RBPT) RBPT adalah teknik tempat agglutinasi yang juga dikenal dengan sebutan uji kartu (card test) atau tes buffered Brucella antigen. Uji ini menggunakan larutan sel halus Brucella abortus yang diwarnai dengan rose Bengal, dengan larutan penyangga sampai dengan pada pH 3,65. Pada pH netral, uji ini dapat mengukur keberadaan igM, IgG1 dan IgG2. Namun, IgM nampak sebagai bagian yang paling aktif. RBPT, pada yang disangga yaitu 3,5 , mencegah agglutinasi dengan IgM, dan tampaknya hanya mengukur IgG1. Uji ini dianggap selain memberikan hasil negatif palsu, juga akan memberikan hasil positif palsu, mungkin terjadi karena, sebagian besar bereaksi dengan IgM pada hewan yang sebelumnya mengalami vaksinasi. Pada kondisi dimana vaksinasi dilaksanakan secara rutin, hasil dari uji ini dapat memberikan informasi yang sangat berharga tentang paparan hewan terhadap organisme Brucella. Metode ini adalah uji yang direkomendasikan secara internasional sebagai uji skrining pada ruminansia kecil, namun tidak memiliki derajad standarisasi antigen. pH yang rendah dari antigen akan meningkatkan spesifitas dari uji ini, sedangkan tempertur antigen dan temperatur lingkungan tempat dilaksanakannya pengujiandapat mempengaruhi sensitivitas dan spesifitas dari uji ini. Corbel pada tahun 1972 mengamati bahwa sensistivitas dari uji terkait dengan fraksi yang mengandung IgG, terutama IgG1 (Kaltungo et al 2014 ; 5). RBT sangat sensitive. Namun demikian, seperti halnya uji serologis lainnya, terkadang RBT memberikan hasil positif karena vaksinasi dengan menggunakan strain S-19 atau reaksi serologis positif palsu. Sehingga hasil pengujian dengan metode RBT yang positif harus di uji lagi dengan uji konfirmasi dan/atau strategi tambahan (termasuk aplikasi dengan menggunakan uji lainnya dan investigasi epidemiologis). Reaksi negatif palsu sangat jarang terjadi, seringkali terjadi karena efek prozone dan terkadang dapat dideteksi dengan melarutkan serum sample atau dengan menguji kembali setelah 4-6 minggu. Namun demikianRBT dirasa cukup memadai sebagai uji skrining dalam mendeteksi kawanan ternak yang erinfeksi atau untuk menjamin ketiadaan infeksi pada ternak yang dinyatakan bebas dari brucellosis (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 12)
Buffered Plate Agglutination Test (BPAT). Metode pengujian RB (Rose Bengal) dan BA (Buffered Plate Agglutination) adalah metode uji antigen Brucella dengan larutan penyangga yang sudah umum dikenal. Pengujian-pengujian ini adalah uji aglutinasi secara cepat yang membutuhkan waktu 4 menit sampai dengan selesai pada sebuah glass plate dengan bantuan suatu antigen dengan larutan penyangga yang bernuansa asam (pH3.65 ± 0.05). Pengujian-pengujian ini telah dikenal di beberapa negara sebagai uji skrining standar karena sangat sederhana dan dianggap lebih sensitif dibandingkan dengan SAT. OIE mempertimbangkan uji ini sebagai “test yang direkomendasikan dalam dunia perdagangan (Seagerman et al, 2010 ; 300). Seperti RBT, metode uji ini juga sangat sensitive, terutama jika untuk mendeteksi antibody yang diinduksi oleh vaksin, dan sampel yang memberikan hasil positif harus di uji ulang dengan menggunakan metode uji konfirmasi dan/atau uji komplemen lainnya (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 12). 
Complement Fixation test (CFT). Kemampuan CFT terutama dalam mendeteksi isotipe antibodi IgG1, sedangkan sebagian dari IgM hancur pada saat dilaksanakannya proses inaktivasi. Karena antibodi tipe IgG1 muncul setelah didahului dengan kemunculan antibodi tipe IgM, pengendalian dan surveilans terbaik dilaksanakan dengan menggunakan metode SATdan CFT. Uji ini menunjukkan hubungan yang baik dengan diketemukannya organisme Brucella pada hewan yang dimasukkan organisme Brucella kepadanya ataupun pada hewan yang terinfeksi secara alamiah. Walaupun uji dapat dilaksanakan secara cepat dan mampu memberikan hasil yang akurat, namun uji ini tidak mampu membedakan tipe antibodi akibat infeksi dan tipe antibodi akibat vaksinasi. Kendala lainnya adalah bahwa diperlukan banyak reagen dan kontrol untuk dapat melaksanakan uji ini. Terlebih, setiap kali dilaksanakan pengujian dengan metode ini, dibutuhkan banyak titrasi, dan interpretasi terhadap hasil bersifat subjektif bergantung kepada teknik. Sesekali, terdapat aktivasi langsung komplemen oleh serum (aktivitas anti komplementer) dan ketidakmampuan uji ini untuk memberikan hasil dari serum yang sudah mengalami hemolisis. Negara berkembang sulit untuk menerap uji ini dikarenakan kondisi prasyarat laboratoium dan kemampuan laboran yang harus dipenuhi agar dapat bekerja melaksanakan pengujian dan memberikan hasil yang valid. CFT juga dapat digunakan untuk menguji suatu hasil positif palsu, ketika antibodi IgG2 menghambat terjadinya fiksasi komplemen. Meskipun melekat beberapa masalah tadi, CFT adalah uji yang digunakan secara luas dan telah dianggap sebagai yang paling spesifik dan merupakan uji serologis yang diterima untuk mendiagnosa Brucellosis. Dengan demikian, CFT adalah uji yang direkomendasikan untuk diterapkan pada perdagangan internasional (Kaltungo et al 2014 ; 5). 
CFT (Complement Fixation Test) memungkinkan untuk mendeteksi antibodi anti-Brucella yang mampu untuk mengaktifkan komplemen. Immunoglobulin sapi yang dapat mengaktifkan komplemen adalah IgG dan IgM. Merunut pada beberapa literatur, metode uji ini tidak memiliki sensitivitas yang tinggi namun memiliki level spesifitas yang tinggi. Dikarenakan metode ini sulit untuk distandarisasi, secara progressif digantikan dengan metode uji ELISA. OIE mempertimbangkan uji ini sebagai “test yang direkomendasikan dalam dunia perdagangan” (Seagerman et al, 2010 ; 300 – 301). 
Biasanya CFT bersifat sangat spesifik. Namun demikian, seperti halnya semua metode uji serologis lainnnya, CFT dapat memberikan hasil positif terhadap hewan yang divaksinasi dengan menggunakan strain S-19 atau hasil positif palsu. Sehingga terhadap reaksi positif harus dilakukan investigasi dengan menggunakan metode konfirmasi atau metode komplemen lainnya yang sesuai. Pada saat seekor betina yang berumur 18 bulan atau lebih divaksinasi dengan menggunakan strain S-19, jikalau di uji pada 3 sampai dengan 6 bulan setelah vaksinasi makan akan memberikan hasil yang positif apabila serum yang digunakan memberikan fiksasi positif pada titer 30 atau lebih (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 14). 
Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) Metode ELISA dibagi menjadi dua kategori, metode tidak langsung ELISA (iELISA) dan metode ELISA kompetitif (cELISA). Kebanyakan iELISA menggunakan LPS halus dimurnikan sebagai antigen tapi ada kemungkinan yang lebih bagus dengan menggunakan immunoglobulin konjugat anti-sapi. Kebanyakan iELISA mendeteksi terutama sub-kelas IgG atau IgG. Kualitas utama mereka terletak pada tingginya sensitivitas yang mereka miliki, tetapi mereka juga lebih rentan terhadap reaksi non-spesifik, terutama yang disebabkan oleh infeksi YO9. Reaksi silang yang terlihat di iELISA mendukung pengembangan cELISA. Rantai dari LPS halus Brucella mengandung epitop tertentu yang tidak dibagi dengan LPS dari YO9. Oleh karena itu, dengan menggunakan antibodi monoklonal yang ditujukan terhadap epitop tertentu dari LPS Brucella, sehingga pengembangan cELISA menjadi lebih spesifik telah dimungkinkan. Uji ini lebih spesifik, tetapi kurang sensitif, dibandingkan dengan iELISA. OIE mempertimbangkan uji ini sebagai “test yang direkomendasikan dalam dunia perdagangan” (Seagerman et al, 2010 ; 301).
Competitive enzyme immunoassays dikembangkan untuk mengeliminasi beberapa, namun tidak seluruh masalah yang timbul dari residual antibodi vaknisasi, dan juga dari antibodi penyebab reaksi silang, pengujian dilakukan dengan menyeleksi suatu antibodi monoklonal dengan affinitas yang sedikit lebih tinggi terhadap antigen daripada kebanyakan antibodi yang timbul dari vaksinasi atau reaksi silang, namun dengan affinnitas yang lebih rendah daripada antibodi yang timbul dari kejadian infeksi. Level spesifitas dari competitive enzyme immunoassays sangat tinggi dan mampu untuk mendeteksi seluruh isotipe antibodi IgM, IgG1, and IgG2 dan IgA). Namun demikian, uji ini sedikit kurang sensitif jika dibandingkan dengan indirect enzyme immunoassay. Uji ini adalah uji konfirmasi yang sangat baik dalam mendiagnosa Brucellosis pada kebanyakan spesies mamalia (Kaltungo et al 2014 ; 7).
Dengan menggunakan metode i-ELISA seperti yang ditetapkan prosedurnya oleh OIE atau metode i-ELISA yang lainnya harus dikalibrasi terhadap serum standar ELISA OIE seperti telah dijelaskan dalam Terrestrial Manual OIE 2009, sensitivitas uji diagnostik ini seharusnya sama atau lebih tinggi jikja dibandingkan dengan BBAT-Buffered Brucella Antigen Test (RBT/BPAT) dalam menguji ternak yang telah terinfeksi. Namun demikian, seperti halnya uji serologis yang lain, uji ini dapat memberikan hasil positif yang disebabkan oleh vaksinasi dengan menggunakan strain S-19 atau reaksi positif palsu. Reaksi positif harus di investigasi dengan menggunakan uji konfirmasi atau strategi komplemen yang sesuai seperti halnya pada uji CFT  (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 16).
Kompetitif ELISA (C-ELISA) menggunakan antibodi monoklonal (MAb) yang spesifik untuk salah satu epitop dari Brucella sp. OPS (Polisakarida O) telah terbukti memiliki spesifisitas yang lebih tinggi tetapi sensitivitas lebih rendah dari I-ELISA. Hal ini dilakukan dengan memilih MAb yang memiliki afinitas yang lebih tinggi dan tidak menimbulkan reaksi silang terhadap antibodi. Namun, telah terbukti bahwa C-ELISA menghilangkan beberapa tapi tidak semua reaksi (FPSR-False Positive Serological Reactions-Reaksi Serologis Positif Palsu) terhadap bakteri yang menyebabkan reaksi silang. C-ELISA juga mampu menghilangkan sebagian reaksi yang ditimbulkan oleh antibodi sisa yang dihasilkan dalam menghadapi vaksinasi dengan strain S-19. Pemilihan MAb serta spesifitas dan afinnitas uniknya akan memberikan pengaruh yang berbeda pada karakteristik kinerja diagnostik pengujian tersebut. Seperti halnya uji yang berbasis MAb, ketersediaan dari MAb atau hibridoma juga harus diperhatikan sehubungan dengan keberterimaan secara internasional dan penggunaan secara luas (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 16).
Flourescence Polarization Assay (FPA) FPA didasarkan pada fakta bahwa, ketika cahaya terpolarisasi menarik molekul flourescence, molekul flourescence akan memancarkan cahaya terpolarisasi. Dalam larutan, tingkat polarisasi cahaya yang dipancarkan berbanding terbalik dengan kecepatan rotasi molekul, yang dipengaruhi oleh tingkat viskositas larutan, temperatur absolut, volume molekul dan konstanta gas.Dalam, hal serologi terhadap Brucellosis, berat molekul subunit kecil OPS diberikan label dengan menggunakan fluorescein  isothiocyanate dan digunakan sebagai antigen. Ketika sedang menguji serum, darah atau air susu, jika ada antibodi terhadap OPS, laju rotasi antigen yang berlabel; akan menurun sampai pada level yang sebanding dengan jumlah antibodi yang ada. Uji FPA sangatlah akurat, dan tingkat spesifitas maupun sensitivitasnsya dapat diatur dengan mengubah kisaran nilai reaksi antara hasil positif dan negatif untuk dapat memberikan hasil uji skrining yang memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi atau memiliki tingkat spesifitas yang tinggi ketika digunakan sebagai uji konfirmasi. Uji FPA dapat membedakan antibodi yang timbul dari kegiatan vaksinasi pada sebagian besar hewan yang divaksinasi, dengan antibodi yang timbul sebagai akibat dari reaksi silang dari mikroorganisme yang menjasi penyebabnya (Kaltungo et al 2014 ; 7).
FPA (Fluorescence Polarisation Assay) berdasar kepada prinsip fisik : seberapa cepat suatu molekul berputar pada suatu media cair dikaitkan dengan massa molekul tersebut. Molekul dengan ukuran yang kecil akan bergerak lebih cepat dan lebih mendepolarisasikan cahaya polar yang jatuh kepadanya, dan molekul yang berukuran lebih besar akan bergerak lebih lambat dan akan mendepolarisasikan cahaya polar lebih sedikit. FPA mengukur level depolarisasi dalam unit minipolarisasi. Selama pengujian serum sampel di inkubasikan dengan antigen specifik Brucella abortus yang ditandai dengan fluorescein isothiocyanate. Dalam kondisi adanya antibodi terhadap Brucella spp., banyak terbentuk komplek flourescen. Pada sampel negatif, antigen yang ada tetap bertahan tanpa membentuk kompleks. Molekul-molekul kecil ini berputar lebih cepat menyebabkan depolarisasi cahaya yang lebih besar daripada sampel positif pada Brucella spp. Uji ini dapat dengan mudah diotomatisasi dan sangat cepat, karena setelah antigen berlabel bercampur dengan serum pembacaan dapat dilakukan secara instan. Sensitivitas pengujian ini sepertinya berada di bawah iELISA. Spesifitasnya bervariasi berada pada kisaran 98.8 – 99.0 %.  Uji ini sudah digunakan dalam pengendalian brucellosis dan digunakan dalam program sertifikasi di Amerika Utara dan di Eropa. OIE mempertimbangkan uji ini sebagai “test yang direkomendasikan dalam dunia perdagangan” (Seagerrman et al, 2010 ; 301)
Sensitivitas dan spesifitas metode uji FPA mirip dengan metode c-ELISA. Spesifitas diagnostik terhadap ternak yang baru saja divaksinasi dengan menggunakan strain S-19 adalah 99%. Namun demikian spesifitas FPA dalam mendeteksi hasil positif palsu belum diketahui. Seperti halnya uji serologis lainnya, reaksi yang memberikan hasil positif harus di investigasi lebih lanjut dengan menggunakan uji konfirmasi atau strategi komplemen lainnya. Metode FPA harus distandarisasi seperti halnya ELISA OIE yang mana serum positif  kuat dan lemah sama-sama memberikan hasil positif yang konsisten pada pengujian yang dilakukan (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 19).
Brucellin Skin Test Skin test (Uji Kulit) menggunakan antigen protein yang berasal dari Brucella (gen Brucella atau Brucellin). Brucellosis mampu untuk menimbullkan respon selluler maupun respon yang dimedmiasi oleh antibodi pada tubuh hospes ; sehingga brucellin skin test (uji kulit brucellin) harus dipertimbangkan penggunaannya dalam kondisi reaksi serologis yang menghasilkan positif palsu. Uji ini memiliki tingkat spesifitas yang tinggi sehingga hewan yang terinfeksi secara laten tanpa menghasilkan level antibodi yang mampu untuk diukur, dan hewan yang tidak divaksinasi yang memberikan reaksi positif terhadap uji ini, harus dikategorisasikan sebagai hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, hasil dari pengujian dengan menggunakan metode ini dapat membantu dalam melaksanakan interpretasi terhadap dugaan reaksi serologis positif palsu diakrenakan keberadaan bakteri yang mampu menyebabkan reaksi silang, teruatama didaerah yang telah dinyatakan secara resmi sebagai daerah bebas Brucellosis. Namun demikian, baru-baru ini, baik hewan yang divaksinasi maupun hewan yang terinfeksi dengan mikroorganisme penyebab reaksi silang memberikan hasil positif terhadap skin test dalam suatu jangka waktu tertentu. Bercovich (1999) melaporkan bahwa, skin test seharusnya merupakan uji yang dilaksanakan pada negara yang berkembang karena biasanya ternak sapi pada negara yang berkembang tidak diberikan pengenal tag, sehingga hasil uji serologis dapat dihubungkan dengan individu hewan. Uji ini dapai diandalkan sebagai uji dalam rangka survey klinis dan survei epidemiologis. Uji ini sangat penting untuk dilaksanakan pada area dengan prevalensi Brucellosis yang rendah atau area yang dinyatakan bebas dari penyakit Brucellosis. Uji ini dilaksanakan dengan menyuntikkab Brucellin pada area phlank (panggul) atau intrapalpebrae, kemudian ketebalan kulit pada daerah yang diinjeksi tersebut diukur. Tidak semua hewan terinfeksi akan memberikan reaksi, sehingga uji ini tidak dapat diterapkan sebagai uji tunggal, atau untuk tujuan perdagangan. Hampir mirip, seperti yang dilaorkan oleh Cutler dkk pada tahun 2005 bahwatingkat spesifitas dari uji ini menurun seiring dengan vaksinasi, dan keperluan untuk mengunjungi 2 peternakan, ditetapkan selang waktu untuk pengulangan uji, dan interpretasi hasil yang bersifat subyektif, membuat uji ini sulit untuk memberikan diagnosa yang efektif (Kaltungo et al 2014 ; 6). 
Meskipun uji intradermal brucellin adalah uji yang paling spesifik terhadap brucellosis (pada hewan yang tidak di vaksin), diagnosa tidak boleh diambil hanya berdasar kepada reaksi intradermal yang ditunjukkan oleh beberapa hewan dalam kelompok ternak, namun harus didukung oleh uji terpercaya lainnya. Inokulasi brucellin intradermal mungkin akan menyebabkan allergi sementara terkait respon immune seluler. Sehingga, dianjurkan untuk memberikan jeda selama 6 minggu terhadap 2 uji yang dilaksanakan pada hewan yang sama. (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 19).
Serum Agglutination (SAT) Uji ini didasarkan kepada reaktivitas antibodi terhadap bagian halus lipopolisakarida (S-LPS). Konsentrasi antibodi yang terlalu tinggi akan mengakibatkan terjadinya hasil negatif palsu karena terjadi efek prozone yang dapat diatasi dengan melakukan pengenceran sampel serum 1 : 2 sampai dengan 1 : 64 yang akan meningkatkan spesifitas uji. Uji ini dilaksanakan pada pH sekitar netral, yang membuatnya lebih efisien dalam mendeteksi antibodi IgM. Oleh karena itu, metode uji ini paling baik untuk mendeteksi kejadian infeksi akut. Uji ini tidak efektif untuk mendeteksi IgG, sehingga uji ini memiliki level spesifitas yang rendah. Dengan adanya fakta ini, SAT, meskipun sensitif, tapi pada umumnya tidak digunakan sebagai uji yang berdiri sendiri, namun dikombinasikan dengan uji-uji yang lain. Dampak yang lainnya adalah adanya hasil positif palsu ataupun negatif palsu. Pada kondisi iniuji ini hanya cocok untuk diterapkan pada populasi, bukan untuk menguji individual hewan. Ditambah lagi, hasil akan menjadi membingungkan ketika bercampur dengan adanya antibodi yang timbul sebagai respon pasca vaksinasi. SAT tidak dapat diterapkan untuk menguji Brucella canis dan Brucella ovis karena kedua spesies ini tidak memiliki rantai O polisakarida pada permukaannya (Kaltungo et al 2014 ; 5).
Meskipun tidak dikenal sebagai metode uji alternative dan metode uji yang direkomendasikan, SAT telah sukses digunakan selama beberapa tahun dalam program pengendalian dan program surveilen terhadap Bovine brucellosis spesifitas metode SAT meningkat secara signifikan dengan penambahan EDTA pada antigen (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 19).
Native Hapten dan uji Cytosol Protein-based. Uji Native Hapten merupakan uji yang sangat spesifik pada kontek vaksinasi dengan strain S-19, dan telah sukses dipergunakan dalam program eradikasi bersama sama dengan RBT sebagai uji skrining. Sensitivitas optimal (dekat dengan yang CFT tetapi lebih rendah dari RBT dan S-LPs berbasis I-ELISA) diperoleh dalam sistem immunodifusi radial terbalik (RID) dimana serum berdifusi ke dalam gel hipertonik yang mengandung polisakarida. Namun demikian, prosedur difusi gel ganda ini juga sangat berguna. Anak sapi yang divaksinasi secara sub-kutan dengan menggunakan dosis standar S-19 pada usia 3-5 bulan akan memberikan hasil negative dalam jangka waktu 2 bulan setelah vaksinasi dilaksanakan , dan ternak dewasa yang divaksinasi secara sub-kutan pada 4-5 bulan sebelumnya dengan menggunakan dosis S-19 yang telah dikurangi tidak memberikan hasil reaksi yang positifkecuali hewan tersebut terinfeksi dan mengeluarkan vaksin tersebut kedalam susunya. Vaksinasi pada area konjungtiva (baik pada ternak muda atau dewasa) mengurangi waktu untuk mendapatkan hasil negatif dalam uji Nativ Hapten. Karakteristik yang luar biasa dari uji immunodifusi radial (RID) adalah bahwa hasil positif berkorelasi dengan penyebaran Brucella seperti diperlihatkan pada ternak percobaan yang terinfeksi dan pada sapi yang terinfeksi secara alami dan dalam masa pengobatan dengan menggunakan antibiotic. Uji presipitasi dengan menggunakan Uji Nativ Hapten atau uji Cytosol Protein-based juga telah menunjukkan untuk eliminasi, pada kebanyakan kasus, reaksi positif palsu yang disebabkan oleh Yersinia Enterocolitica O : 9 dan positif palsu oleh sebab lainnya (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 20).
Milk Test
Milk Ring Test (MRT). MRT pada dasarnya adalah uji agglutinasi cepat yang dilakukan pada susu atau krim. Sel-sel Brucella yang dicat menggunakan haematoxylin ditambahan ke dalam cairan susu dan diinkubasikan selama beberapa waktu agar terjadi reaksi. Immunoglobulin yang ada pada air susu sebagian akan menempel pada bagian Fc pada globuli lemak dari moleku susu. Immunoglobulin yang dapat dideteksi oleh MRT adalah IgM dan IgA. Uji ini bisa diterapkan pada hewan secara individual atau pada tempat/tangki pengumpul air susu. MRT rawan terjadinya reaksi palsu yang disebabkan oleh karena kondisi susu yang tidak normal dikarenakan penyakit mastitis, produksi kolostrum dan air susu terjadi pada akhir masa laktasi. Hasil negatif paslu dapat terjadi pada sir susu dengan konsentrasi antibodi lakteal yang rendah atau kekurangan faktor pembentuk lemak. Terlepas darmi kendala tersebut, MRT telah menjadi uji yang sangat efektif, dan biasanya menjadi pilhan dalam menguji kawanan sapi perah, dan mungkin dapat digunakan sebagai metode untuk melaksanakan kegiatan skrining dengan biaya yang rendah jika dibandingkan dengan metode uji yang lainnya (Kaltungo et al, 2014 ; 4) 
Pada hewan dalam masa laktasi, MRT dapat digunakan sebagai uji skrining kelompok ternak. Pada kelompok ternak yang besar (>100 ternak dalam masa laktasi), sensitivitas uji ini menjadi kurang dapat diandalkan. MRT dapat disesuaikan untuk mengkompensasi factor pengenceran dari sampel susu yang sangat banyak dari kawan ternak yang jumlahnya besar. Reaksi positif palsu dapat terjadi jika ternak divaksinasi kurang dari 4 bulan dari tanggal dilaksanakannya pengujian, pada sampel yang mengandung air susu yang abnormal (semisal kolostrum) atau pada kejadian mastitis. Sehingga, tidak direkomendasikan untuk mengaplikasikan metode uji ini pada kelompok ternak yang ukurannya sangat kecil yang mana hasil pengujian memberikan dampak yang lebih besar (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 20).
Milk iElisa. Beberapa iELISA komersial yang tersedia telah divalidasi dan dipakai secara luas. Dalam hal harmonisasi internasional, 3 Serum Standar ELISA OIE harus dipergunakan sebagai referensi laboratorium nasional untuk memeriksa atau mengkalibasi terhadap keraguan yang timbul atas metode uji tertentu. Metode iELISA harus distandarisasi semisal standar positif kuat ELISA OIE ketika diencerkan 1/125 pada serum negatif dan kemudian diencerkan 1/10 pada susu negatif harus konsisten memberikan hasil positif. Metode cELISA tidak boleh digunakan untuk menguji susu, namun dapat digunakan untuk menguji whey (OIE Terrestrial Manual, 2009 ; Chapter 2.4.3 ; 20).
Dalam sebuah jurnal berjudul “Diagnosis of Brucellosis in Livestock and Wildlife” yang ditulis oleh Seagerman et al, disimpulkan bahwa diagnosa brucella Spp. pada hewan ternak dan hewan liar adalah kompleks dan hasil pengujian secara serologis  perlu untuk dianalisa secara hati-hati. Brucella abortus S-19 dan Brucella mellitensis Rev-1 adalah pilar utama dalam melaksanakan program pengendalian pada ternak sapi dan ruminansia kecil. Para penulis jurnal tersebut telah memperbandingkan  sensitivitas dan spesifitas 10 metode uji diagnosa terhadap brucellosis pada sapi seperti ditunjukkan oleh Tabel 2.


Tabel 2. Sensitifitas dan spesifitas metode-metode uji tidak langsung dalam 
mendiagnosa brucellosis pada sapi (Seagermen et al, 2010)


Istilah-istilah : SAT – Slow Agglutination test ; SAW – Slow Agglutination of Wright ; MAT – Micro Agglutination Test ; CFT – Complement Fixation Test ; BAT – Buffered Brucella Antigen Test ; iELISA – indirect ELISA ; cELISA – Competitive ELISA ; FPA – Flourescent Polarization Assay ; MRT – Milk Ring Test



Dengan berdasar kepada hasil yang ditunjukkan pada Tabel 2, maka urut-urutan sensitivitas dari tertinggi sampai dengan  terendah adalah : iELISA  Milk Test > iELISA > FPA > cELISA > CF > MRT > BAT > SAT > Skin Test > FPA Milk Test. Sedang kan urut-urutan spesifitas dari tertinggi sampai dengan terendah adalah : FPA Milk Test > CFT > iELISA dan Skin Test > cELISA > FPA > iELISA Milk Test > SAT > BAT > MRT. Dalam jurnal tersebut, disebutkan bahwa termasuk kedalam BAT adalah RBT dan BPAT


Tabel 3. Perbandingan Spesifitas berdasarkan Jurnal "A Comparison of Standard Serollogical Test                 for the Diagnosis of Brucellosis in Canada " ( Stemshon et al, 1984)



Stemshorn et al, dalam jurnal yang berjudul ”A Comparison of Standard Serological Test for the Diagnosis of Bovine Brucellosis in Canada” menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan uji-uji serologis terhadap 1051 serum sapi yang bebas brucellosis dan 167 sampel positif (telah diuji dengan metode kultur). Dalam perbandingan spesifitas uji secara CFT dan RBT memiliki nilai spesifitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPAT, SPAT maupun STAT. dengan factor pembanding sentivitas metode uji, CFT memiliki nilai sensitivitas lebih tinggi dari RBT, BPAT, SPAT dan STAT.






Tabel 4. Perbandingan Sensitivitas berdasarkan Jurnal "A Comparison of Standard Serollogical Test               for the Diagnosis of Brucellosis in Canada "  ( Stemshon et al, 1984)


Berdasar kepada Tabel 2, maka urut-urutan spesifitas metode uji terhadap brucellosis menurut hasil penelitian Stemshorn et al adalah : CFT dan RBPT > SPAT > STAT > BPAT. Sedangkan nilai sensitivitas dari tertinggi sampai terendah secara berurutan adalah : CFT > BPAT > RBPT > SPAT > STAT.

Pada tahun 2014, dalam sebuah jurnal berjudul “Application of Different Serological Test for the Detection of the Prevalence of Bovine Brucellosis in Lactating Cows in Khartoum State, Sudan” yang ditulis oleh Adil et al, disimpulkan bahwa kombinasi antara MRT dan milk ELISA, meskipun dari segi ekonomi terhitung murah dan banyak sapi atau ternak sapi yang dapat diuji dengan mudah, masih kurang sesuai dalam mendeteksi antibody brucella dan beberapa reactor yang dideteksi oleh uji tersebut mungkin adalah positif palsu, jika dibandingkan dengan menggunakan uji RBT yang dikombinasikan dengan sELISA (ELISA terhadap sampel serum).
Ahmed et al (2016) dalam jurnalnya yang berjudul Sensitivity and Spesificity of Various Serological Test for Detection of Brucella spp. Infection in Male Goat  and Sheep menyatakan bahwa metode uji ELISA jauh lebih baik daripada menggunakan metode uji RBPT dalam mendiagnosa brucellosis. Pertama, ELISA merupakan metode langsung dalam mendeteksi antibody spesifik sehingga cenderung tidak memberikan hasil positif palsu. Kedua, metode uji ELISA memiliki nilai sensitivitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan uji agglutinasi lainnya. Ketiga, konjugasi enzym antibody yang digunakan memiliki reaktivitas rantai yang ringan sehingga mampu untuk mendeteksi semua kelas antibody. Sensitivitas yang tinggi yang dimiliki oleh RBT sehingga disarankan untuk menggunakan metode uji RBPT sebagai Uji Skrining, sementara dengan spesifitas yang lebih tinggi yang dimiliki oleh ICA (Immunochromatographic Assays) sehingga ICA digunakan sebagai uji konfirmasi terhadap setiap hasil positif pada metode uji RBT. Selain ICA, dinyatakan bahwa iELISA memiliki spesifitas yang lebih tinggi daripada RBT sampai dengan mampu membedakan tahap akut dan kronis dari penyakit.
Namun demikian, metode diagnosa terhadap brucellosis yang disarankan untuk dilaksanakan pada perdagangan internasional, dalam panduannya yang berjudul Manual of Diagnostic Test and Vaccines for Terrestrial Animals 2009,  adalah :
  • Rose Bengal Plate Test
  • Complement Fixation Test 
  • Enzym-linked Immunosorbent Assay 
  • Flourescence Polarisation Assay

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
1.    Diagnosa terhadap penyakit Brucellosis tetap menjadi pekerjaan yang sulit. Satu-satunya diagnosa terbatas, yang merupakan “Gold Standard” adalah identifikasi terhadap agen penyebab yang dapat dilaksanakan dengan metode pengecatan, kultur, dan molekuer ;
2.    Tujuan dari program pemberantasan bukanlah kondisi “zero seropositif”, tapi tidak adanya infeksi, mengingat bahwa seropositif dapat terjadi setelah dilaksanakannya vaksinasi atau infeksi YO9 ;
3.    Empat (4) metode uji dalam mendiagnosa brucellosis yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh OIE adalah Rose Bengal Plate Test (RBT) ; Complement Fixation Test (CFT) ; Enzym-linked Immunosorbent Assay (ELISA) : Flourescence Polarisation Assay (FPA) ;
4.    Sensitivitas dari tertinggi ke terendah dari 4 uji tersebut secara berturut turut adalah : ELISA > FPA > CFT > RBT ;
5.    Spesifitas dari tertinggi ke terendah dari 4 uji tersebut secara berturut turut adalah : DFT > ELISA > FPA > RBT.

SARAN
1.  Setiap metode uji dalam mendiagnosa brucellosis harus didasarkan kepada prosedur kerja yang telah terstandarisasi dan dilaksanakan oleh personel yang berkompeten ;
2.  Setiap hasil positif yang dihasilkan  dari satu uji hendaknya dikonfirmasi dengan menggunakan uji lainnya atau strategi komplemen yang lainnya ;