Mastitis/Radang Ambing

PEMERIKSAAN KONDISI AMBING
Sejak pemeriksaan fisik terhadap ambing di anggap sebagai suatu pemeriksaan yang paling logis dan alami untuk dilakukan, kemudian hal ini melahirkan sebuah metode praktikal untuk mengevaluasi keadaan ambing, yaitu dengan mengamati keadaan ambing dan palpasi ambing tersebut. Keakuratan diagnosa dari metode ini tentu saja sangat ditentukan oleh kemahiran dari orang yang bersangkutan, yang melakukan pemeriksaan terhadap ambing. Dari hal ini, kemudian banyak orang yang kemudian menjadi ahli dalam hal ini karena lama – kelamaan mereka menjadi terbiasa.

Banyak ahli bakteriologi yang memberikan data – data untuk keakuratan dari pemeriksaan klinis yang mungkin berbeda tentang keadaan ambing dalam hal nilai signifikansi dari pemeriksaan klinis dalam mendiagnosa penyakit mastitis.

Udall dan Johnson percaya kalau pemeriksaan secara fisik adalah suatu metode yang paling akurat jika dibandingkan dengan pemeriksaan yang lainnya. Beberapa oaring mungkin memberikan pengecualian terhadap pernyataan ini, sampai saat ini metode inilah yang paling pertama ada dan yang aplikatif untuk digunakan di lapangan. Pemeriksaan fisik juga membuktikan kemungkinan sebegai suatu dasar bagi penolakan sapi - sapi pada pada program kesehatan masyarakat, yang mana merupakan suatu tugas bagi dinas kesehatan untuk mencegah air susu yang abnormal untuk bisa masuk kedalam pasar. Ketika meetode ini digunakan dalam hubungannya dengan pemeriksaan seorang dokter hewan terhadap sapi – sapi perah untuk tujuan produksi air susu, maka keinginan dalam hal pengontrolan mastitis meningkat dan susu yang diproduksi akan meningkat secara kualitatif.

Dalam hal pengontrolan terhadap bentuk kronis dari mastitis, program ataupun sistem yang digunakan mungkin akan gagal untuk mengidentifikasi kasus pada hewan yang baru saja terinfeksi ataupun yang ada pada fase tengah –tengah, jika program ataupun system tersebut dilakukan tanpa menggunakan pemeriksaan secara cultural dari susu. Hal ini tidak memberikan informasi tentang infeksi yang mungkin terjadi yang bertanggung jawab terhadap perubahan jaringan ambing dan perubahan yang terjadi pada air susu. Beberapa pengobatan mungkin akan manjur apabila kelompok penyebabnya adalah golongan streptococci, namun hal ini akan menjadi sia – sia jika penyebabnya adalah golongan staphylococci atau golongan – golongan yang lain. Secara umum telah disetujui bahwa keberhasilan terapi terhadap mastitis tidak boleh dihentikan jika hanya secara laboratoris sudah dinyatakan sembuh, dalam kasus ini kebanyakan ambing telah rusak pada batas dari pengobatan. Dengan menggunakan pemeriksaan secara fisik akn memudahkan sotang dokter hewan dalam memilih ambing yang paling sesuai untuk pengobatan yang spesifik dan untuk mengidentifikasi sudah sampai sejauh mana infeksi berlangsung didalam tubuh sapi.

Suatu pemeriksaan secara klinis yang complex adalah suatu elemen yang penting pada setiap program pengontrolan mastitis dan tidak bias dihindarkan walaupun tidak memberikan informasi secara bakteriologis yang diperlukan.


B. MEMERIKSA AIR SUSU YANG DISEKRESIKAN

Ada dua kelompok uji yang biasa dilakukan dalam mendeteksi penyakit mastitis, yaitu ;


1) Indirect Test.
   Uji ini bergantung kepada adanya lesi yang dapat dipalpasi pada ambing atau perubahan komposisi dari air susu yang disekresikan.

2) Direct, atau Cultural Test
Uji ini untuk mendeterminasi kehadiran dan mengidentifikasi orgenisme mastitis didalam air susu.

INDIRECT TEST


i. Penampilan dari air susu
Pada kasus mastitis akut, sekresi berubah menjadi grossly altered pada stadium awal dari penyakit tersebut. Abnormalitas yang mungkin nampak berupa adanya jendalan didalam air susu, sekresi sedikit dan encer, ataupun warna yang kuning dari air susu tersebut. Kehadiran kolostrum dalam air susu setelah parturisi akan mengakibatkan penampilan yang abnormal dari air susu.Pada saat itu mungkin akan berwarna merah darah karena hemoragi yang disebabkan oleh luka mekanis atau mungkin juge perubahan fisiologi yang ebnormal dari kelenjar tersebut.

ii. Bromothymol Blue Test
Pertama kali dikenalkan oleh Baker dan Breed pada tahun 1920. Sampel yang memberikan warna kuning kehijau – hijauan berarti normal.Yang berwarna hijau mengkilat punya kemungkinan. Sedangkan yang berwarna biru kehijau – hijauan, biru atau kunig terang adalah sample yang positif terinfeksi mastitis.
iii. Bromocresol Purple Test
Sample akan memberikan warna biru keabu – abuan jika pH sample adalah normal dan akan memberikan warna biru yang kelam jika pH pada sample adalah alkalis.


iv. Whiteside Test
Sampel yang negativ adalah sample yang tidak ada presipitatnya. Jumlah presipitat yang terbentuk di diututkan deri yang tipis sampai yangh tebal yang berarti dari yang ringan sampai yang berat.

v. Chloride Test
Jikalau kandungan chloride dalam sample adalah.0,14 % berarti sample adalah normal.
vi. Catalase Test
Jika gas yang dihasilkan dalam tes ini lebih dari 15 ml, maka dinyatakan positif terhadap mastitis.
vii. Rennet Test
Sampel air susu yang tidak mengalami koagulasi setelah perlakuan diaggap sample yang positif.

viii. Trommsdorff Test
Setelah mengalami perlakuan, jika ada deposit sebesar 0,01 ml atau lebih dinyatakan sebagai sample yang positif terkena mastitis.
ix. Leucocyte Count
Menurut Hucker et al, sample yang mengandung 3 juta atau lebih leukosit per milliliter biasanya mengindikasikan infeksi streptococcus yang sedang berlanghsung atau sudah selesai.
x. Leucocyte Count and Cultural Test
Dari pengalaman menunjukkan bahwa sapi perah yang bebas dari Streptococcus agalactia yang produksi susunya memiliki kandungan leukosit sampai 1 juta per milliliter dikatakan negative dari pengaruh mastitis.


CULTURAL TEST

Perkembangan ilmu pengetahuan kita sekarang ini tentang penyebab dan pengontrolan mastitis pada sapi perah membuat perlunya digunakan prosedur – prosedur diagnosa yang bias mendeteksi dan mengidentifikasi organisme – organisme yang berbeda sehubungan dengan penyakit yang diderita. Str. Agalactie dikenal sebagai penyebab utama dari mastitis kronis. Infeksi dari organisme ini dapat di kurangi dan akhirnya dapat disingkirkan dengan pengetesan laboratoris secara periodik dan mengisolasi sapi yang positif terinfeksi. Suatu program yang manjur digunakan untuk melawan infeksi Str. Agalactia akan menjadi tidak efektif jika digunakan untuk melawan penyebab mastitis yang lain, misalnya ; Str. Uberis, Str. Dysgalactia, Corynebacterium Pyogenes, Staphylococcus yang patogenik, dan organisme – organisme coliformis. Lebih jauh lagi, pemeriksaan sample susu secara rutin akan mendapati berbagai macam type streptococcus dalam jumlah yang kecil yang mungkin tidak ada hubungannya dengan mastitis. Untuk alasan ini, tes yang digunakan pada pengontrolan mastitis tidak hanya depat mendeteksi jumlah kecil dari Str. Agalactiae tapi juga mendiferensiasikan organisme ini dari streptococci yang lain dan juga bias mendeteksi mastitis yang disebabkan oleh organisme yang lain.

 
PENYEBARAN MASTITIS

Penjelasan umum untuk terjadinya penularan penyakit mastitis adalah penularan melalui ductus papillaris. Hal ini dapat terjadi karena mekanisme penutupan ductus papillaris yang tidak sempurna, berkaitan dengan trauma karena mekanis yang merupakan factor predisposisi dari terjadinya infeksi oleh organisme – organisme penyebab mastitis. Terlebih lagi, factor lingkungan yang berbeda – beda dan kelukaan pada ambing atau ductus papillaris bisa mengakibatkan suatu infeksi yang sangat ringan, yang kemudian akan berkembang menjadi tempat terdapatnya organisme – organisme penyebab mastitis.

Kelainan apapun baik itu berupa deformitas, ataupun kelukaan yang menahan otot sphincter untuk melakukan mekanisme penutupan akan menjadi faktor predisposisi dari terjadinya infeksi. Di sisi yang lain, mekanisme penutupan yang dapat berfungsi dengan normal dan panjang ductus yang normal akan bertingak sebagai mekanisme pertahanan yang alami.

Walaupun ada kemungkinan pada suatu kondisi tertentu organisme dapat mencapai amning dengan bersama alitan darah, namun sampai saat ini belum ada data pendukung yang kuat untuk membuktikan adanya korelasi dengan keberadaan Str. Agalactiae pada ambing dalam peristiwa kasus mastitis.

Pada ambing yang sehat, konsentrasi dari lactonin, yang merupakan subtansi inhibitorik yang normal ada pada cairan sekresi, mungkin ada dalamjum;ah yang cukup untuk melindungi ambing dari subtansi – subtansi yang dapat menginfeksi ambing. Resistensi, mungkin berkaitan dengan pengaruh lingkungan yang bermacam – macam pada tempat hewan tersebut tinggal atau dari infeksi yang berulang – ulang dari organisme infeksius yang semakin lama dosis infeksinya semakin naik

Suatu masalh yang nyata bahwa mastitis dapat tumbuh dengan cepat, dalam satuan menit, pada media yang tidak diencerkan jika agen penyebabnya ada dalam fase yang aktif untuk tumbuh, walaupun tidak terjadi iritasi pada streak kanal. Menurut penelitian, diperlukan adanya bagian dari kultur yang tidak diencerkan dengan maksud untuk menggambarkan penghalang protektif yang bersifat alami. Kesalahpahaman ini, bagaimanapun juga telah membut banyak orang yang bekerja pada bidang ini mempercayai keberadaan dari sejumlah agen yang lain, yang mungkin suatu orgfanisme yang berbentuk vitus, adalah penting untuk mencipatakan suatu kondisi pada ambing yang cocok bagi pertumbuhan organisme streptococcus yang menginfeksi. Daripada hal tersebut, penelitian perihal penyebaran mastitis yang bersifat negativ ini diperuntukkan bagi Streptococcus agalactiae yang bersifat noninvasif atau pada kasus – kasus dimana tidak terdapat factor – factor yang bertindak sebagai inisiator. Orgnisme yang berupa virus mugkin merupakan factor predisposisi dari kasus mastitis, namun tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa hal tersebut adalah benar.

Dalam mengevaluasi hasil dari sebuah penelitian yang berhubungan dengan pergumbuhan mastitis, faktor – faktor berikut merupakan sesuatu yang harus diperhatikan dengan baik ;
  • normalitas dari ambing dan juga kanalnya
  • Keberadaan flora bacterial dan penghitungan sel pada ambing melalui inokulasi
  • Dosis infeksi, umur infeksi, dan tingkat infektivitas dari streptococcus yang menginfeksi
  • Pengaruh dari subtansi yang bersifat bakterisidal yang ada pada susu terhadap organisme yang menginfeksi
  • kemampuan dari duktus papillaris untuk melakukan mekanisme penutupan.

PENGOBATAN MASTITIS PADA SAPI PERAH

Pada tahun 1887, Nocard dan Mollereau megemukakan bahwa mastitis yang sudah kronis pada sapi perah adalah sebuahpenyakit menulardi sebabkan oleh streptococcus dan mungkin dapat disembuhkan dengan jalan menyuntikkan larutan asam borat 4% melalui putting pada quarter yang terinfeksi. Sejak saat itu banyak bermunculan obet – obatan kimiawi, dari yang sederhana sampai yang komplex yang diberikan secara otal, subcutan, intravena ataupun dengan infus secara langsung pada ambing sebagai suatu cara untuk melawan penyakit tersebut.

A. PERALATAN UNTUK SUNTIKAN INTRAMAMMARY
Untuk pengobatan dengan menggunakan infuse ketika yuang terkena mastitis adalah satu bagian dari empat quarter yang ada, yang di butuhkan adalh sebuah botol yang memiliki ukuran millimeter, selang dengan panjang yang disesuaikan dengan kebutuhan, dan kanula yang digunakan pada quarter. Disini ukuran botol yang digunakan adaklh botol yang bervolune satu milliliter.Jika yang terkena adalam satu ambing, atau semua quarter, maka digunakan botol yang bervolume empat liter dan juga menggunakan empat kanula yang kemudian di pasang pada setiap ambing yang masing – masing bersambungan dengan selang yang terpisah sendiri - sendiri yang mana semuanya berasal dari satu botol yang sama. Karena botol yang digtnakan disini adalh botol yang berukutan besar maka diperlukan tien penyangga agar botol infuse tidak ambruk. Obat – obatan yang mungkin diperlukan adalah tyritrycin, silver oxida koloid, sulfanilamide yang berada dalam suatu larutan sebanyak 5 sampai 150 mililiter untuk setiap ambing.

B. PERLUNYA STERILISASI DAN TEKNIK ASEPTIS
Penyuntikken materi kimia harus dilakukan oleh tangan yang ahli dan harus dilakukan pada kondisi yang tepat. Kesalahan kondisi , misalkan tanpa langkagh – langkah aseptis, maka hanya akan mengakibatkan penyakit yang lebih parah..Sebagai desinfectan bagi alat – alat yang akan digunakan, diperlukan alcohol 70% yang mampu bertindak sebagai subtansi yang bersifat bakterisidal. Sterilisasi ambing tempat kanula melekat juga harus diperhatikan, jangan sampai menjadi sumber infeksi sekunder.

Obat – obatan untuk kasus mastitis ;


1. Keluarga acridine, seperti ;
  • Entozone
  • Tryplafavin
2. Gramicidin dan Tyrotrycin
3. Silver oxida dalam air mineral
4. Sufanilamid
5. Ait mineral yang mengandung iodine
6. Penicillin